Tampilkan postingan dengan label movie review. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label movie review. Tampilkan semua postingan

Jumat, 05 April 2013

Recommended movie : A Day With My Son




kemaren lusa, film ini sukses bikin gue nangis bombay. sediiiiiiiiiiiiiiiih huhuhu tapi mantap. pas awal download, gue nggak terlalu berharap tinggi ke film ini, cuman tertarik dengan synopsisnya aja. bahkan film ini sempet didiemin dulu beberapa hari sebelum akhirnya ditonton juga. nyesel, selain karena kenapa ga donlot dari dulu-dulu, juga karena kenapa ga ditontonnya pas weekend aja, jadi gue nggak perlu malu di kantor gara-gara mata bengkak besok paginya. disangka patah hati deeeeh *padahal yang matahinnya juga belom ada #kasian #nangislagi.

judulnya 'A Day With My Son'. Korean Movie.
ceritanya, tentang seseorang yang dapat hukuman seumur hidup gara-gara pembunuhan dan perampokan. Orang yang dihukum dalam rentang waktu tertentu punya tujuan kebebasan, orang yang dihukum mati punya tujuan kematian, tapi orang yang dihukum seumur hidup seakan ga punya tujuan akhir. Ini yang bikin orang ini seakan hopeless dengan hidupnya sendiri.

si orang ini udah 15 tahun hidup di penjara. suatu hari, dia kepilih dari sekian banyak napi untuk keluar dari penjara dan menemui siapapun yang dia mau selama satu hari aja. Dia memilih untuk ketemu dengan ibunya yang udah tua, dan anaknya yang waktu dia tinggalin masih berumur 3 tahun. Masalahnya, dia bahkan nggak inget sama sekali wajah anaknya ini. Sampai-sampai dia bikin papan yang bertuliskan 'Nak, ini ayah' yang dia bawa-bawa waktu dia nungguin anaknya di gerbang sekolah -mirip tour guide kalo lagi nyari turis di bandara gitu, hehe.

singkat cerita, si ayah ini berhasil ketemu dan menghabiskan harinya dengan si anak. Walaupun awalnya interaksi keduanya agak akward, tapi akhirnya hubungan mereka bisa lebih cair juga. Bahkan pas mendekati saat-saat mereka berpisah karena si ayah harus balik lagi ke penjara, si ayah keliatan sediiiiih banget, dan si anak keliatan sayaaaang banget sama si ayah. Tapi ternyata, ada satu rahasia besar yang baru dibuka di akhir cerita, yang nggak disangka-sangka, yang bikin air mata gue mengalir dengan lancar jaya. Apa? ada deh, liat sendiri aja, nggak asik kalo diceritain :)

jempol pokoknya buat film ini. mantap. recommended.


Senin, 01 April 2013

Madre

long weekend kemaren gue tutup dengan nonton film 'Madre' bareng temen. aslinya yaaa, jarang2 long weekend gue habisin full di luar rumah : day 1 -maen sama ibu, bapak, adek dan adek. day 2 -hijab fashion week bareng temen. day 3 -nonton bareng temen. nggak perlu nanya kapan jalan bareng pacarnya ya, udah pada tau kan jawabannya *miris*. biasanya, I spent my long weekend dengan hanya nonton puluhan drama korea/jepang atau bikin kue atau beres-beres kamar. kasian.ck.ck.ck

balik ke 'Madre'.
sama halnya dengan kasus 'Rectoverso', gue nonton film ini tanpa baca dulu bukunya. bukan karena gue nggak suka baca buku, tapi emang dasar gue-nya aja yang ketinggalan jaman kali ya :P 'Madre' juga ditulis oleh Dee, penulis yang gue percaya karya-karyanya emang pantes untuk dibaca dan dinikmati -meskipun gue nggak selalu baca bukunya, karena, kan udah gue bilang gue ketinggalan jaman kalo tentang per'buku'an ini- Ngeliat poster filmnya, oke. Ngeliat cast-nya, oke. Ngedenger jalan ceritanya, oke. Tapi setelah memutuskan nonton filmnya, sayangnya...


Madre berasal dari kata Spanyol yang berarti ibu. Madre di film ini, adalah biang roti tua yang udah berumur puluhan taun -baru tau gue kalo biang roti umurnya bisa selama itu- Ceritanya, si biang roti ini adalah sebuah warisan yang didapat oleh seorang surfer dan blogger bernama Tansen. Tansen yang penyuka kebebasan nggak pernah tau dia diwarisi biang roti oleh kakeknya yang udah almarhum, dengan tujuan menghidupkan kembali sebuah toko roti 'Tan De Bakker' milik kakeknya, dibantu dengan karyawan-karyawan kakeknya dulu yang sekarang udah jadi 'nini-nini' dan 'aki-aki'. Biang roti ini juga membawa Tansen bertemu dengan seorang cewek pengusaha toko roti yang cantik banget -Laura Basuki gituuu- bernama Mei. Yah, bisa ditebak lah ya Tansen dan Mei ini jatuh cinta tapi ada halangan orang ketiga, pilihan hidup, etc dll dkk jsb. Endingnya, udah bisa ditebak, tapi buat yang penasaran silahkan cari tau sendiri.

well,
ide cerita buat gue oke. bikin gue inget 'Baker King Kim Tak Gu' -eaaaaa, korea lagi, korea lagi-. pemain juga nggak masalah buat gue. tapi nggak tau ya, filmnya makin kesini makin bikin bosen. jalannya terlalu lambat, dan dari pertengahan film aja -atau mungkin dari awal- kita udah bisa nebak endingnya. Jadi nggak bikin penasaran, bikin nggak betah nonton lama-lama. Kayaknya kalo film ini diputernya di laptop gue, udah gue fast forward deh langsung ke ending. hehehe. Adegannya kadang terkesan sinetron banget, terlalu didramatisir, jadi kadang hilang maknanya atau hilang sisi romantisnya. Yang bikin gue bertahan adalah dialog-dialog antara Didi Petet dan Vino yang kadang bikin ngakak. Dialog-dialog lain dibikin puitis, yang sebenernya bisa bikin film ini keliatan indah.. tapi entah kenapa, nggak berlaku disini. Sisi puitisnya seakan ilang gitu aja.

yah, itu pendapat gue sih.. mungkin pendapat orang beda. mungkin ada juga yang bilang film ini oke banget, but sayangnya, film ini adalah 'no' buat gue :)

jadi penasaran lagi deh sama bukunya, soalnya kata temen bukunya bagus banget. err, apa mungkin alasan sederhananya adalah, film ini gagal memindahkan cerita dari buku menjadi sebuah film? atau emang ceritanya yang kurang pas untuk difilmkan? well, sebagai orang yang nggak modal *bangga?*, akhirnya gue mutusin untuk minjem lagi bukunya. let's see, seperti apa pendapat gue untuk 'Madre' versi buku ini. lebih baguskah, lebih jelekkah, atau sama aja datarnya...



Senin, 18 Februari 2013

Rectoverso

...jumat kemaren, gue nonton film ini bareng temen. errrrrr, sebelum masuk theaternya, disuruh nyiapin tissue yang banyak sama dia. gue tanya : kenapa? dia tanya balik : belum baca bukunya ya? gue jawab : belom -sambil nyengir. well, udah lamaaaa banget gue ga baca buku. Buku terakhir yang gue baca bukan novel pula, tapi buku perpajakan Indonesia ihihihihihihi.

balik ke rectoverso. 
kita berdua sama-sama ga bawa tissue. Untungnya, di tas nyelip tissue dari resto tempat kita makan sebelumnya :) nggak ada rotan akar pun jadi lah yaaaa. hehehe.
film dimulai. 
film ini terdiri dari lima cerita yang diputar secara acak. maksudnya, ketika kita ada di adegan cerita pertama, tiba-tiba bisa langsung beralih ke adegan di cerita keempat, terus beralih lagi ke adegan di cerita ketiga misalnya. pas awal-awal agak bingung buat adaptasi sih, tapi setelah masing-masing adegan awal dari tiap cerita keluar dan mulai masuk ke adegan selanjutnya, film udah mulai bisa dinikmati dengan nyaman.



cerita pertama tentang 'si abang'. FYI, di film ini, penonton nggak dikasih tahu judul masing-masing cerita. ya kalo yang udah baca bukunya mungkin bisa nebak judulnya ya, tapi kalo orang awam kayak gue yang langsung nonton tanpa baca ya nggak akan ngerti judul ceritanya apa. Tapi beda kasus untuk cerita pertama ini. Yang tahu/suka lagu dan video clip-nya Dewi Lestari 'Malaikat Juga Tahu' udah bisa nebak bahwa cerita ini judulnya sama dengan lagu itu. Yang diceritain pun hampir sama kok, beda beberapa pemainnya aja. Pendapat gue untuk cerita pertama ini : LOVE. Ceritanya nyentuh, plus aktingnya Lukman Sardi = sempurna. Jempol.

cerita kedua judulnya Firasat -judul didapat dari hasil gugling hehehe. ceritanya tentang cewek bernama Senja yang punya firasat kuat tentang hal-hal buruk yang akan terjadi. Dia mulai ngerasa terganggu dengan kelebihannya itu, saat dia mulai mendapat firasat yang buruk bersamaan dengan kedekatannya dengan Panca, seorang cowok di Premonition Club yang dia ikuti. Pendapat gue untuk cerita kedua ini : lumayan bagus sih, tapi ending cerita bisa ketebak.

cerita ketiga tentang 'Cicak'. ajegile adegannyaaa hahahaha. kayaknya cerita ini deh ya yang bikin film ini akhirnya dikasih rate Dewasa. soalnya adegan di film lain biasa aja, cuman yang satu ini agak luar biasa hehe. Ceritanya tentang Taja dan Saras. Ngapain tuh si Taja dan Saras? Nonton sendiri aja yaaaa. nggak berani nyeritain ulang ah, atut, matih ketil atunya. lol. pendapat gue : akting oke, cerita err... walopun adegannya agak 'serem' tapi inti ceritanya lumayan oke.

cerita keempat : 'Curhat Buat Sahabat'. tentang seorang cewek bernama Amanda yang untuk kesekian kalinya curhat tentang pacarnya ke sahabatnya Reggie. Reggie selalu setia ngedengerin curhatan Amanda, selalu ada kapapanpun Amanda butuh dan rela mengorbankan dirinya sendiri demi Amanda. Sampai pada akhirnya Amanda nyadar bahwa selama ini Reggie-lah yang selalu ada buat dia dan menyayangi dia dengan tulus. Pendapat gue tentang cerita ini : emmm, ceritanya terlalu biasa sih ya buat gue. endingnya juga kurang jelas. sayang aja..

cerita kelima. hasil gugling (lagi-lagi), judulnya 'Hanya Isyarat'. ceritanya tentang lima orang backpacker (1 cewek, 4 cowok) yang ketemu lewat milis dan mutusin buat ngumpul bareng. Ketika mereka ngumpul, mereka saling berbagi cerita satu sama lain tentang sad story yang mereka punya. Pendapat gue tentang cerita yang ini : sukaaaaaaaa. ceritanya sebenernya sederhana, tapi kalimat-kalimatnya jempol masbro, apalagi kalimatnya si Al. romantisssss. latar tempatnya, akting pemainnya juga nampol. cerita favorit gue selain ceritanya si abang tadi.

over all, menurut gue Rectoverso lumayan bagus, meskipun ga sukses bikin gue dan temen gue nangis parah. cuman berkaca-kaca sama netes dikiiiiiiit aja pas bagian cerita si abang. Jadi penasaran sama bukunya, soalnya kata temen bukunya lebih bagus. Dia bisa sampe nangis bombay gara-gara baca cerita di buku itu. well, sebuah buku yang hanya mengandalkan kata-kata dan kalimat, bisa bikin kamu sampai nangis, itu berarti luar biasa. wajib baca. entah minjem atau beli sendiri, buku ini masuk list buku yang harus gue baca :)

 
Template by suckmylolly.com